KELANA
MUARAJAMBI

MUARAJAMBI ADALAH KAWASAN DENGAN KOMPLEKS BANGUNAN SUCI AGAMA BUDDHA YANG SANGAT LUAS DI PULAU SUMATRA DIBANGUN KIRA-KIRA ABAD KETUJUH. MENJADI PINTU GERBANG SEKALIGUS SALAH SATU PUSAT PENYEBARAN AGAMA BUDDHA TERPENTING DI ASIA TENGGARA. MAHAGURU ATISHA DARI TIBET KONON JUGA PERNAH BELAJAR DARI PENDETA BESAR SERLINGPA DHARMAKIRTI DI MUARAJAMBI. LEWAT ILUSTRASI-ILUSTRASI, KAMI MEMBAWA ANDA MENELUSURI SUNGAI BATANGHARI, DARI WILAYAH HULU HINGGA HILIR, UNTUK MEMAHAMI BAGAIMANA GELIAT SUNGAI MENGEMBUSKAN NAPAS KEHIDUPAN BUAT MUARAJAMBI. INI BARU PERMULAAN! SECARA BERKALA MUSEUM NASIONAL BERKOMITMEN UNTUK TERUS MENAMBAH SAJIAN KEKAYAAN SEJARAH DAN BUDAYA MUARAJAMBI DI LAMAN INI. SELAMAT MENIKMATI!

LIHAT VIDEO

PETA CANDI MUARAJAMBI

HULU

Bukit Barisan yang membentang kurang lebih seribu kilometer di sepanjang Pulau Sumatra adalah sumber kesuburan dan kekayaan alam yang memungkinkan manusia memelihara kehidupan dan menciptakan kebudayaan. Hutan-hutannya adalah bagi komoditas perdagangan dunia yang dicari pedagang dan peradaban-peradaban besar di mancanegara. Sungai Batanghari, terpanjang di Sumatra dengan sembilan anak sungainya, juga berhulu di kawasan ini: di wilayah Solok Selatan dan Kerinci. Badan sungai cukup lebar dan dalam, membuat pelayaran menggunakan perahu dimungkinkan mulai dari kawasan hulu hingga hilir.

DANAU-DANAU

Bak intan permata, danau-danau menghiasi kawasan hulu Jambi— Danau Kerinci hanya salah satunya! Selain itu ada Danau Lingkat, Danau Kecil, Danau Padang, dll. Danau tak hanya menyediakan air—untuk minum, untuk ladang dan sawah—kepada warga di kawasan bawahnya, tapi juga adalah sumber mineral dan protein dengan aneka macam ikan, penyu, berang-b... baca selengkapnya

Bak intan permata, danau-danau menghiasi kawasan hulu Jambi— Danau Kerinci hanya salah satunya! Selain itu ada Danau Lingkat, Danau Kecil, Danau Padang, dll. Danau tak hanya menyediakan air—untuk minum, untuk ladang dan sawah—kepada warga di kawasan bawahnya, tapi juga adalah sumber mineral dan protein dengan aneka macam ikan, penyu, berang-berang, dan satwa air lainnya. Dengan kekayaan itu, tak heran danau-danau di kawasan pegunungan dan perbukitan ini telah menjadi hunian favorit sejak masa prasejarah

GUNUNG KERINCI

Gunung Kerinci (3.805 mdpl) adalah "atapnya" Pulau Sumatra. Perbukitan dan kaki-kaki gunungnya adalah hutan-hutan yang menjadi rumah bagi gajah, harimau, beruang madu, tapir asia, macan tutul, siamang, dan ribuan ekor jenis burung. Di dasar hutannya tumbuh aneka flora termasuk bunga rafflesia hingga kayumanis. Tercatat ada empat ribu lebih jenis tu... baca selengkapnya

Gunung Kerinci (3.805 mdpl) adalah "atapnya" Pulau Sumatra. Perbukitan dan kaki-kaki gunungnya adalah hutan-hutan yang menjadi rumah bagi gajah, harimau, beruang madu, tapir asia, macan tutul, siamang, dan ribuan ekor jenis burung. Di dasar hutannya tumbuh aneka flora termasuk bunga rafflesia hingga kayumanis. Tercatat ada empat ribu lebih jenis tumbuhan dan ratusan jenis anggrek. Ribuan tahun lamanya, manusia memanfaatkan hasil hutannya, termasuk rotan, untuk diperdagangkan hingga jauh. Beberapa tinggalan masa prasejarah, yang disebut batu gong oleh masyarakat lokal, masih bisa ditemukan hingga sekarang.

GADING, CULA, HARIMAU PENJAGA

Gading gajah dan cula badak telah diperdagangkan ribuan tahun lamanya. Dipercaya menjadi obat segala atau bahan baku untuk membuat perhiasan mewah yang hanya dipakai orang-orang kaya dari India, China, hingga Timur Tengah sana. Gajah dan badak sumatra hidup di bawah lindungan hutan. Dihuni juga oleh harimau sumatra yang menjelajah hingga wilayah pe... baca selengkapnya

Gading gajah dan cula badak telah diperdagangkan ribuan tahun lamanya. Dipercaya menjadi obat segala atau bahan baku untuk membuat perhiasan mewah yang hanya dipakai orang-orang kaya dari India, China, hingga Timur Tengah sana. Gajah dan badak sumatra hidup di bawah lindungan hutan. Dihuni juga oleh harimau sumatra yang menjelajah hingga wilayah perbatasan. Tapi ketiga satwa ini terancam punah. Seiring dengan susutnya hutan yang jadi rumah mereka.

FLORA DAN KOMODITAS NIAGA

Hutan-hutan di Jambi kaya dengan pohon damar (getahnya digunakan untuk melapis kapal supaya tak bocor dan untuk penerangan), gaharu (menghasilkan resin wangi yang produknya ekspor hingga India dan Timur Tengah), merica (tanaman asli India yang tumbuh subur di Sumatra), dan kemungkinan komoditas lainnya seperti kapur barus dan kemenyan yang dipakai ... baca selengkapnya

Hutan-hutan di Jambi kaya dengan pohon damar (getahnya digunakan untuk melapis kapal supaya tak bocor dan untuk penerangan), gaharu (menghasilkan resin wangi yang produknya ekspor hingga India dan Timur Tengah), merica (tanaman asli India yang tumbuh subur di Sumatra), dan kemungkinan komoditas lainnya seperti kapur barus dan kemenyan yang dipakai buat aneka upacara keagamaan di mancanegara. Jangan lupa juga hutan menyediakan perlindungan alami untuk lebah-lebah yang menghasilkan madu asli!

DHARMASRAYA/SITUS PADANG ROCO

Dharmasraya adalah pusat Kerajaan Malayu bercorak Buddha di hulu Sungai Batanghari. Para ahli memperkirakan kerajaan Malayu ini pernah menyatu dengan Sriwijaya pada abad ketujuh hingga dua belas Masehi. Pusat pemerintahannya sendiri berpindah-pindah. Mulai dari kawasan hilir Sungai Batanghari sekitar Muarajambi, sebelum pindah ke kawasan Dharmasray... baca selengkapnya

Dharmasraya adalah pusat Kerajaan Malayu bercorak Buddha di hulu Sungai Batanghari. Para ahli memperkirakan kerajaan Malayu ini pernah menyatu dengan Sriwijaya pada abad ketujuh hingga dua belas Masehi. Pusat pemerintahannya sendiri berpindah-pindah. Mulai dari kawasan hilir Sungai Batanghari sekitar Muarajambi, sebelum pindah ke kawasan Dharmasraya paling tidak mulai abad ketiga belas, lalu pindah lagi ke kawasan Pagaruyung. Kerajaan ini telah disebut-sebut sumber asing Cina dan cukup penting, hingga Singhasari di Jawa menjalin persahabatan dengan raja-rajanya.

ARCA BHAIRAWA

Arca Bhairawa ditemukan di Padangroco pada tahun tahun 1930-an dan jadi koleksi paling besar Museum Nasional hingga sekarang. Dalam tradisi Hindu, Bhairawa adalah perwujudan Siwa sang dewa penghancur. Tapi dalam tradisi Buddha Tantrayana dia juga sosok yang disucikan dan menjadi sumber kekuatan. Para ahli menganggap arca ini perwujudan dari Adityaw... baca selengkapnya

Arca Bhairawa ditemukan di Padangroco pada tahun tahun 1930-an dan jadi koleksi paling besar Museum Nasional hingga sekarang. Dalam tradisi Hindu, Bhairawa adalah perwujudan Siwa sang dewa penghancur. Tapi dalam tradisi Buddha Tantrayana dia juga sosok yang disucikan dan menjadi sumber kekuatan. Para ahli menganggap arca ini perwujudan dari Adityawarman, raja besar Malayu dari abad keempat belas. Raja Adityawarman sendiri lahir dari seorang putri Melayu bernama Dara Jingga dan seorang bangsawan Majapahit.

AMOGHAPASA

Amoghapasa ditemukan di kompleks percandian Padang Roco di Dharmasraya. Arca merupakan hadiah persahabatan dari Raja Kertanagara dari Singhasari kepada raja Malayu. Berita pengiriman arca Amoghapasa ini tertulis pada alas arca bertanggal 22 Agustus 1286. Disebutkan arca ini dikirimkan dengan empat belas pengiring, di bawa dari Bhumijawa (Jawa) ke S... baca selengkapnya

Amoghapasa ditemukan di kompleks percandian Padang Roco di Dharmasraya. Arca merupakan hadiah persahabatan dari Raja Kertanagara dari Singhasari kepada raja Malayu. Berita pengiriman arca Amoghapasa ini tertulis pada alas arca bertanggal 22 Agustus 1286. Disebutkan arca ini dikirimkan dengan empat belas pengiring, di bawa dari Bhumijawa (Jawa) ke Swarnabhumi (Sumatra) untuk ditempatkan di Dharmasyara. Raja dan segala rakyatnya, karena itu, bersuka cita.

UPACARA KENDURI SKO, NASKAH TANJUNG TANAH.

Naskah Tanjung Tanah adalah naskah berbahasa Melayu tertua di dunia. Kitab yang berisi pertauran hukum ini berasal dari abad ke-14, ditulis menggunakan campuran Bahasa Melayu dan Sansekerta serta beraksara pasca-Pallawa dan Incung (aksara khas Kerinci). Naskah Tanjung Tanah ditulis atas perintah Maharaja Dharmasraya di atas daluwang, sejenis kertas... baca selengkapnya

Naskah Tanjung Tanah adalah naskah berbahasa Melayu tertua di dunia. Kitab yang berisi pertauran hukum ini berasal dari abad ke-14, ditulis menggunakan campuran Bahasa Melayu dan Sansekerta serta beraksara pasca-Pallawa dan Incung (aksara khas Kerinci). Naskah Tanjung Tanah ditulis atas perintah Maharaja Dharmasraya di atas daluwang, sejenis kertas yang diolah dari kulit kayu. Setelah Islam datang, naskah ini diadaptasi menjadi “Undang-Undang Nan Duopuluah” yang dipakai sebagai hukum adat di wilayah Daerah Aliran Sungai Batanghari termasuk Jambi.

GUNUNG DAN LEMBAH MASURAI

Gunung Masurai beserta lembah dan hutannya menyimpan sejarah geologis purba Jambi yang membentang jutaan tahun lamanya. Bentang alam ini, secara bersama-sama juga telah diajukan sebagai Geopark Merangin Jambi. Singkapan-singkapan di pinggir sungai Batang Merangin dan Sungai Batang Mengkarang, mengungkap jejak fosil kayu, kerang raksasa, ikan, seran... baca selengkapnya

Gunung Masurai beserta lembah dan hutannya menyimpan sejarah geologis purba Jambi yang membentang jutaan tahun lamanya. Bentang alam ini, secara bersama-sama juga telah diajukan sebagai Geopark Merangin Jambi. Singkapan-singkapan di pinggir sungai Batang Merangin dan Sungai Batang Mengkarang, mengungkap jejak fosil kayu, kerang raksasa, ikan, serangga, tumbuhan paku, dikotil, monokotil, juga fosil kayu dengan genus Dryobalanops (kamper). Bagi masyarakat lokal, fosil-fosil kayu juga difungsikan sebagai nisan kubur bagi tokoh-tokoh penting. Misalnya nisan kubur Orang Kayo Pingai, saudara dari Orang Kayo Hitam yang merupakan tokoh penting dari Jambi. Lanskap Lembah Masurai juga merekam aktivitas geologis dan vulkanis purba yang pada akhirnya menyebabkan fitur unik yang bisa kita nikmati hingga sekarang seperti danau, kaldera, air terjun, sumber air panas, dll.

EMAS

Kawasan hulu Sungai Batanghari juga kaya dengan emas. Baik di wilayah daratan maupun yang mengendap di sungai-sungai. Saking banyaknya emas yang berasal dari pulau Sumatra, pulau ini dijuluki sebagai Swarnabhumi atau pulau emas dalam Bahasa Sanskekerta dan Sarandib, juga bermakna pulau emas dalam tradisi penulisan Arab. Hingga sekarang masyarakat d... baca selengkapnya

Kawasan hulu Sungai Batanghari juga kaya dengan emas. Baik di wilayah daratan maupun yang mengendap di sungai-sungai. Saking banyaknya emas yang berasal dari pulau Sumatra, pulau ini dijuluki sebagai Swarnabhumi atau pulau emas dalam Bahasa Sanskekerta dan Sarandib, juga bermakna pulau emas dalam tradisi penulisan Arab. Hingga sekarang masyarakat di kawasan hulu juga menyebut sungai di kawasan tersebut sebagai “sungai ameh” atau sungai emas. Kejayaan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya juga disumbang oleh komoditas emas. Bahkan dalam Undang-Undang Tanjung Tanah Dari Kerinci dikenal sebuah istilah “Mas Mana”, yaitu pajak dan denda dalam bentuk emas yang diberikan oleh masyarakat disekitar DAS Batanghari kepada sang penguasa.

TENGAH

Sungai Batanghari memiliki sembilan anak sungai utama. Inilah yang mengilhami istilah ‘Pucuk Jambi Sembilan Lurah’ untuk menandai kekuasaan kerajaan Melayu atas sungai-sungai dan wilayah yang dialirinya. Tak hanya menjadi sarana transportasi, sungai juga sediakan air, makanan, tempat tinggal, yang menjadi tempat tumbuhnya peradaban, termasuk Kompleks Percandian Muarajambi. Sungai Batanghari mengalir di daratan Jambi yang didominasi dataran rendah kaya dengan rawa, cabang sungai, serta muara. Manusia-manusianya bersahabat dengan banjir yang tak cuma membawa duka, tapi juga kesuburan buat tanah-tanah yang akan dikelola para petani.

PERCANDIAN MUARAJAMBI

Situs Muarajambi adalah peninggalan peradaban masa Malayu Kuno dan Sriwijaya yang membentang mulai abad ketujuh hingga ketiga belas. Terdiri dari bangunan peribadatan dan kompleks pendidikan internasional yang dilengkapi dengan telaga atau danau. Kanal-kanal menghubungkan bangunan-bangunan suci juga sebagai cara cerdik para perancangnya untuk hidup... baca selengkapnya

Situs Muarajambi adalah peninggalan peradaban masa Malayu Kuno dan Sriwijaya yang membentang mulai abad ketujuh hingga ketiga belas. Terdiri dari bangunan peribadatan dan kompleks pendidikan internasional yang dilengkapi dengan telaga atau danau. Kanal-kanal menghubungkan bangunan-bangunan suci juga sebagai cara cerdik para perancangnya untuk hidup bersama banjir pada musim pasang. Ini juga mungkin bermakna sebagai simbol samudra yang mengelilingi pusat semesta atau meru—yang diwujudkan dalam bentuk candi. Para arkeolog masih bekerja keras mengungkap bangunan-bangunan suci yang mencakup kawasan seluas 3,981 hektar, yang menjadikan Muarajambi sebagai salah satu kawasan percandian yang terluas di Asia Tenggara!

PANCA WIDYA

Muarajambi juga berperan sebagai pusat pendidikan yang disinggahi pelajar dan biksu internasional—termasuk I-Tsing pada 671 M untuk belajar Bahasa Sansekerta sebelum berangkat ke India. Kurikulum pendidikannya mencakup pelajaran Sabdawidya atau ilmu bahasa dan kesusastraan; Hetuvidya atau ilmu logika, filsafat, dan debat; Cikitsawidya atau ilmu p... baca selengkapnya

Muarajambi juga berperan sebagai pusat pendidikan yang disinggahi pelajar dan biksu internasional—termasuk I-Tsing pada 671 M untuk belajar Bahasa Sansekerta sebelum berangkat ke India. Kurikulum pendidikannya mencakup pelajaran Sabdawidya atau ilmu bahasa dan kesusastraan; Hetuvidya atau ilmu logika, filsafat, dan debat; Cikitsawidya atau ilmu pengobatan; Silpakarma-stanawidya atau seni rupa, arsitektur, pengecoran logam, dan kitab; dan Adhyatmawidya atau ilmu spiritualitas dan meditasi. Penghuni mahawihara ini memulai harinya dengan olahraga, membersihkan diri, mendoakan guru-guru, sarapan bersama, barulah belajar.

ARCA PRAJNAPARAMITA

Arca Prajnaparamita ini ditemukan di Candi Gumpung, Muarajambi. Patung ini dianggap sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan dan kesempurnaan pengetahuan tertinggi dalam agama Buddha aliran Tantrayana. Dari material dan gaya ukirnya, patung ini kerap disamakan dengan patung Prajnaparamita yang ditemukan di Candi Singhasari, Jawa Timur yang sekarang disimp... baca selengkapnya

Arca Prajnaparamita ini ditemukan di Candi Gumpung, Muarajambi. Patung ini dianggap sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan dan kesempurnaan pengetahuan tertinggi dalam agama Buddha aliran Tantrayana. Dari material dan gaya ukirnya, patung ini kerap disamakan dengan patung Prajnaparamita yang ditemukan di Candi Singhasari, Jawa Timur yang sekarang disimpan di Museum Nasional. Dengan demikian para ahli memperkirakan patung ini juga berasal dari periode yang sama—yaitu abad ketiga belas—dan mungkin dibawa ke Jambi dari Jawa Timur. Sama halnya dengan dengan ’kembarannya’ di Jakarta, arca Prajnaparamita Muarajambi juga memiliki motif di kainnya yang disebut patola dari India.

MAKARA DAN DWARAPALA

Arca-arca makara di situs Candi Kedaton baru ditemukan pada saat proses pemugaran gapuranya. Figur dalam Makara adalah hewan mitologi berbentuk hibrid atau gabungan, misalkan gajah dengan ikan dll. Pada bagian mulut makara biasanya juga ditemukan penggambaran figur-figur dewa juga hewan seperti kobra, monyet, atau singa. Di Museum Nasional juga ter... baca selengkapnya

Arca-arca makara di situs Candi Kedaton baru ditemukan pada saat proses pemugaran gapuranya. Figur dalam Makara adalah hewan mitologi berbentuk hibrid atau gabungan, misalkan gajah dengan ikan dll. Pada bagian mulut makara biasanya juga ditemukan penggambaran figur-figur dewa juga hewan seperti kobra, monyet, atau singa. Di Museum Nasional juga terdapat Makara yang berasal dari Candi Solok Sipin, di Kota Jambi. Arca Dwarapala ditemukan saat ekskavasi gapura Candi Gedong Dua. Sama seperti Dwarapala lainnya, atribut berupa gada juga melengkapi arca ini. Bedanya, arca ini memegang juga perisai dan tidak berwujud raksasa yang menyeramkan seperti yang ada di Jawa, tapi malah berhias senyum yang ramah Bentuk arca ini sekilas mirip orang cebol. Dalam mitologi India dan Jawa mereka dianggap memiliki kesaktian. Museum Nasional juga memiliki beberapa arca Dwarapala dari berbagai daerah.

CANDI SOLOK SIPIN

Candi Soloksipin terletak sedikit menjauh dari kompleks percandian Muarajambi. Di sekitar reruntuhan candi ini ditemukan stupa, makara, dan patung Buddha—dua artefak terakhir bisa kita jumpai di Museum Nasional. Letaknya tak jauh dari Sungai Batanghari. Hanya dua ratus meter saja. Para arkeolog menemukan aneka pecahan keramik yang merentang mulai... baca selengkapnya

Candi Soloksipin terletak sedikit menjauh dari kompleks percandian Muarajambi. Di sekitar reruntuhan candi ini ditemukan stupa, makara, dan patung Buddha—dua artefak terakhir bisa kita jumpai di Museum Nasional. Letaknya tak jauh dari Sungai Batanghari. Hanya dua ratus meter saja. Para arkeolog menemukan aneka pecahan keramik yang merentang mulai dari masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing (mulai abad ke-14 sampai abad ke-19), keramik Thailand (abad ke-15) hingga keramik Eropa (abad ke-19-20) selain pecahan berusia lebih tua dari abad ke-12. Ahli memperkirakan Candi Soloksipin bisa jadi kompleks percandian yang cukup besar. Tapi hingga sekarang para arkeolog belum berhasil menemukan jawabannya. Candi Soloksipin kini berada di tengah-tengah permukiman warga. Dari salah satu makara yang ditemukan didapat keterangan tahun 986 Saka atau 1064 Masehi. Dengan demikian diperkirakan candi ini dibangun kira-kira pada abad kesebelas tarikh Masehi.

TRADISI SUNGAI DAN (PERANGKAP) IKAN

Masyarakat sejak lama telah memanfaatkan sungai Batanghari dan pinggirannya untuk menangkap udang dan ikan termasuk ikan endemik seperti tapa dan semah serta ikan belida yang kesohor. Perangkap itu bisa berupa jaring atau lukah yang disebut tangkul oleh masyarakat lokal—ini semacam perangkap bubu yang terbuat dari bambu dan rotan. Tradisi lainnya... baca selengkapnya

Masyarakat sejak lama telah memanfaatkan sungai Batanghari dan pinggirannya untuk menangkap udang dan ikan termasuk ikan endemik seperti tapa dan semah serta ikan belida yang kesohor. Perangkap itu bisa berupa jaring atau lukah yang disebut tangkul oleh masyarakat lokal—ini semacam perangkap bubu yang terbuat dari bambu dan rotan. Tradisi lainnya disebut "batelek" yatu menombak ikan dari pohon-pohon di pinggir sungai dan "nyoloh" yaitu berburu ikan yang terperangkap saat sungai surut pada malam hari. Tradisi ini semakin ditinggalkan karena jumlah ikan besar semakin langka, selain itu sungai juga cepat mengering dan vegetasi pinggir sungai semakin menghilang akibat perubahan lingkungan. Museum Nasional juga menyimpan banyak perangkap ikan atau bubu dari berbagai tempat di nusantara.

RUMAH TRADISIONAL DAN SUNGAI

Di kompleks percandian Muarajambi juga ditemukan bata-bata bergores bermacam motif. Ada yang berbentuk hewan, perahu, bunga teratai, huruf-huruf, dan bentuk-bentuk rumah tradisional sejenis seperti yang masih kita bisa jumpai hingga sekarang: yaitu rumah panggung. Salah satu bentuknya menyerupai rumah tradisional di daerah Rumah Rantau Panjang. Uni... baca selengkapnya

Di kompleks percandian Muarajambi juga ditemukan bata-bata bergores bermacam motif. Ada yang berbentuk hewan, perahu, bunga teratai, huruf-huruf, dan bentuk-bentuk rumah tradisional sejenis seperti yang masih kita bisa jumpai hingga sekarang: yaitu rumah panggung. Salah satu bentuknya menyerupai rumah tradisional di daerah Rumah Rantau Panjang. Uniknya rumah ini juga memiliki hiasan serupa Makara. Pada masa lalu, juga terdapat rumah-rumah rakit yang bisa dijumpai di tepi Sungai Batanghari, mirip miniatur rumah apung dari Sungai Musi kita bisa jumpai di Museum Nasional. Rumah rakit bisa diisi oleh satu keluarga. Mereka kadang menetap selama beberapa waktu dan kadang pula berlalu mencari tempat baru. Selain berperan sebagai tempat tinggal, rumah rakit juga berperan sebagai moda transportasi yang membawa komoditas dagang bersama dengan perahu sampan, perahu kajang, dan perahu-perahu kargo lainnya.

ARCA AWALOKITESWARA

Total ada enam arca Awalokiteswara yang ditemukan di Jambi, umumnya berbahan perunggu, termasuk Arca Awalokiteswara berlapis emas di Museum Siginjei Kota Jambi. Emas adalah salah satu komoditas penting Jambi dan Sumatra, tak heran Sumatra dijuluki Swarnadwipa atau Pulau Emas. Awalokiteswara adalah Bodhisatwa yang mengajarkan welas asih. Awalokitesw... baca selengkapnya

Total ada enam arca Awalokiteswara yang ditemukan di Jambi, umumnya berbahan perunggu, termasuk Arca Awalokiteswara berlapis emas di Museum Siginjei Kota Jambi. Emas adalah salah satu komoditas penting Jambi dan Sumatra, tak heran Sumatra dijuluki Swarnadwipa atau Pulau Emas. Awalokiteswara adalah Bodhisatwa yang mengajarkan welas asih. Awalokiteswara dipuja dalam berbagai tradisi Buddha di dunia. Figurnya kadang dirupakan dalam wujud laki-laki atau perempuan, seperti yang terjadi di Cina (disebut sebagai Guanyin atau Kwan Im) atau di Korea dan Jepang (disebut sebagai Kannon and Gwaneum).

PRASASTI KARANG BRAHI

Muarajambi diperkirakan mengalami dua masa pemerintahan. Yaitu Kerajaan Melayu Kuno dan Kerajaan Sriwijaya. Kabar dari sumber China mengkonfirmasi kekuasaan Sriwijaya sampai di kawasan ini. Demikian pula keberadaan Prasasti Karang Brahi. Prasasti ini bercerita tentang kutukan bagi mereka yang tidak setia kepada penguasa Sriwijaya. Kalimatnya kurang... baca selengkapnya

Muarajambi diperkirakan mengalami dua masa pemerintahan. Yaitu Kerajaan Melayu Kuno dan Kerajaan Sriwijaya. Kabar dari sumber China mengkonfirmasi kekuasaan Sriwijaya sampai di kawasan ini. Demikian pula keberadaan Prasasti Karang Brahi. Prasasti ini bercerita tentang kutukan bagi mereka yang tidak setia kepada penguasa Sriwijaya. Kalimatnya kurang lebih bernada sama dengan beberapa prasasti Sriwijaya dari masa yang sama lainnya seperti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo dari Palembang atau Kota Kapur dari pulau Bangka yang semuanya tersimpan di Museum Nasional

PINANG

Di antara muatan perahu dagang, mestinya terselip juga pinang. Buah dari pohon berjenis palem ini telah digunakan dalam tradisi yang telah berusia ribuan tahun di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara: menginang atau menyirih. Bahkan ada juga yang mengaitkan asal-usul nama Jambi dengan ‘Jambe’ bahasa Jawa untuk pohon pinang. Pada abad kelima bel... baca selengkapnya

Di antara muatan perahu dagang, mestinya terselip juga pinang. Buah dari pohon berjenis palem ini telah digunakan dalam tradisi yang telah berusia ribuan tahun di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara: menginang atau menyirih. Bahkan ada juga yang mengaitkan asal-usul nama Jambi dengan ‘Jambe’ bahasa Jawa untuk pohon pinang. Pada abad kelima belas juga ada nama seorang putri dari Jambi yang bernama Putri Selaro Pinang Masak. Pinang juga melambangkan keramah-tamahan dan penerimaan orang Jambi kepada tamu. Hingga sekarang Jambi juga terkenal dengan ekspor komoditas pinangnya. Museum Nasional memiliki koleksi aneka pekinangan yang indah-indah dari seluruh Nusantara.

HILIR

Jaringan perdagangan di Jambi dimulai dari kawasan hulu lalu pertemuan di antara anak sungai dengan sungai (yang disebut “muara” dalam istilah lokal), hingga ke kawasan hilir (juga disebut “kuala”). Di sinilah Sungai Batanghari bermuara dan bertemu dengan Selat Malaka. Di kawasan ini juga komoditas berharga (emas, rempah, gading, dan cula) dari pedalaman siap diperniagakan hingga ke mancanegara. Di kawasan hilir ini pula ide-ide baru, termasuk agama-agama diperkenalkan dan menyebar. Kawasan muara di hilir Jambi juga berada dekat Selat Malaka. Wilayah ini bersama-sama menjadi perlintasan laut nan strategis di mana pedagang dan kebudayaan-kebudayaan dari negeri tetangga dan mancanegara dari China, India, Arab, dan Persia—lalu belakangan Eropa—diterima, diolah, dan dikembangkan.

PERAHU BERCADIK

Bata bergambar Kapal Samudra ini ditemukan di Muarajambi. Digurat dengan cukup teliti, lengkap dengan layar-layar dan barisan pedayung. Diperkirakan kapal jenis ini lalu-lalang di perairan nusantara sekitar abad ketujuh hingga ketiga belas. Kapal dilengkapi dengan cadik, batang kayu atau bambu di sisi kiri dan kanan kapal, berfungsi untuk menjaga k... baca selengkapnya

Bata bergambar Kapal Samudra ini ditemukan di Muarajambi. Digurat dengan cukup teliti, lengkap dengan layar-layar dan barisan pedayung. Diperkirakan kapal jenis ini lalu-lalang di perairan nusantara sekitar abad ketujuh hingga ketiga belas. Kapal dilengkapi dengan cadik, batang kayu atau bambu di sisi kiri dan kanan kapal, berfungsi untuk menjaga keseimbangan kapal. Kapal sejenis ini juga dapat ditemui di beberapa relief Candi Borobudur. Kapal bercadik ini dikembangkan dari perahu bercadik yang lebih sederhana dan dipakai sejak ribuan tahun lalu untuk menjelajah antar-pulau bahkan antar-samudra.

CANDI RANGKAYO HITAM DAN KERIS SIGINJEI

Di kompleks pemakaman Orang Kayo Hitam ditemukan dua reruntuhan bangunan mandapa yang terbuat dari bata. Secara definisi, mandapa sendiri diartikan sebagai sebuah struktur berbentuk persegi tanpa dinding yang berfungsi sebagai aula. Selain mandapa, ditemukan juga keramik-keramik asing, serpihan arca berupa tangan dan kepala singa. Orang Kayo Hitam ... baca selengkapnya

Di kompleks pemakaman Orang Kayo Hitam ditemukan dua reruntuhan bangunan mandapa yang terbuat dari bata. Secara definisi, mandapa sendiri diartikan sebagai sebuah struktur berbentuk persegi tanpa dinding yang berfungsi sebagai aula. Selain mandapa, ditemukan juga keramik-keramik asing, serpihan arca berupa tangan dan kepala singa. Orang Kayo Hitam menurut naskah hikayat adalah pahlawan dan pendiri Kesultanan Jambi yang berani menentang kuasa Mataram. Dia dikenal dengan keris sakti yang dipakai sebagai tusuk sanggul rambutnya. Keris Siginjei terus dipakai penguasa Jambi sebagai simbol kekuasaan. Terakhir keris ini dipakai Sultan Thaha yang gugur di medan perang pada 1904. Keris ini sekarang disimpan di Museum Nasional.

PERAHU LAMBUR

Perahu kayu kuno dari Lambur ditemukan di Kecamatan Muara Sabak. Perahu Lambur diperkirakan berasal dari abad ketiga belas dan memiliki panjang dua puluh empat meter, perahu ini diperkirakan mampu mengarungi laut lepas, Sabak adalah nama sungai kecil yang bermuara ke sungai Niur, pecahan sungai Batanghari yang mengalir ke utara. Nama ini disamakan ... baca selengkapnya

Perahu kayu kuno dari Lambur ditemukan di Kecamatan Muara Sabak. Perahu Lambur diperkirakan berasal dari abad ketiga belas dan memiliki panjang dua puluh empat meter, perahu ini diperkirakan mampu mengarungi laut lepas, Sabak adalah nama sungai kecil yang bermuara ke sungai Niur, pecahan sungai Batanghari yang mengalir ke utara. Nama ini disamakan dengan Zabaj atau Zabag yang menurut naskah-naskah Timur Tengah abad kesembilan merupakan kerajaan di Sumatera yang makmur. Muara sungai Niur menghadap lagsung Laut Cina Selatan, memungkinkan kapal-kapal niaga yang melewati Selat Malaka singgah ketempat ini.

ARCA DIPALAKSMI

Arca perempuan memegang pelita berhias ayam jago ini ditemukan di Kotokandis, Muarasabak. Terbuat dari perunggu dan diperkirakan berasal dari abad 13-14 masehi. Nama “Dipalaksmi” disematkan karena karena dewi ini memegang lampu atau “dipa.” Dipa ini juga merupakan atribut dari Dewi Laksmi—ibu dari alam semesta dalam tradisi Hindu. Dewi La... baca selengkapnya

Arca perempuan memegang pelita berhias ayam jago ini ditemukan di Kotokandis, Muarasabak. Terbuat dari perunggu dan diperkirakan berasal dari abad 13-14 masehi. Nama “Dipalaksmi” disematkan karena karena dewi ini memegang lampu atau “dipa.” Dipa ini juga merupakan atribut dari Dewi Laksmi—ibu dari alam semesta dalam tradisi Hindu. Dewi Laksmi juga dikaitkan dengan kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Ada dugaan, patung ini digunakan di dalam kapal atau perahu untuk fungsi penerangan atau mungkin juga sebagai jimat keberuntungan. Berdasarkan gaya seninya, arca memperlihatkan engaruh budaya Tamil dari India Selatan.

KERAMIK DARI SITUS SITIHAWA

Tak jauh dari tempat ditemukannya Perahu Lambur terdapat situs Sitihawa. Di situs ini ditemukan aneka keramik dari Cina yang diperkirakan berasal dari abad kesepuluh hingga empat. Ini membuktikan kawasan tersebut pernah menjadi bandar perdagangan yang cukup ramai dan telah menjalin perdagangan aktif dengan Cina. Keramik dihasilkan dari tanah liat y... baca selengkapnya

Tak jauh dari tempat ditemukannya Perahu Lambur terdapat situs Sitihawa. Di situs ini ditemukan aneka keramik dari Cina yang diperkirakan berasal dari abad kesepuluh hingga empat. Ini membuktikan kawasan tersebut pernah menjadi bandar perdagangan yang cukup ramai dan telah menjalin perdagangan aktif dengan Cina. Keramik dihasilkan dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar dengan suhu tinggi, di atas 600 derajat Celsius. Karena kerumitan pembuatannya dan estetika bentuknya, keramik dianggap sebagai barang mewah yang memberikan gengsi pada pemiliknya. Di situs ini juga ditemukan keramik berukuran besar yang sepertinya dibuat berdasarkan pesanan alias bukan produk massal. Penelitian arkeologi atas situs Sitihaea membuktikan bahwa dulunya berupa pulauyang dikelilingi laut dangkal.

SELAT MALAKA

Selat Malaka adalah jantung perdagangan yang menghubungkan perdagangan antara Timur Tengah, India, China, dan Asia Teggara sejak awal masehi. Selat sempit yang mengontrol perdagangan rempah-rempah, gading dan cula, kapur barus dan cendana, keramik dan kain-kain indah yang melibatkan pedagang Arab dan Persia dan mengalirkan komoditas-komoditas ini h... baca selengkapnya

Selat Malaka adalah jantung perdagangan yang menghubungkan perdagangan antara Timur Tengah, India, China, dan Asia Teggara sejak awal masehi. Selat sempit yang mengontrol perdagangan rempah-rempah, gading dan cula, kapur barus dan cendana, keramik dan kain-kain indah yang melibatkan pedagang Arab dan Persia dan mengalirkan komoditas-komoditas ini hingga Eropa. Selat Malaka juga adalah pintu masuk utama menuju Jawa yang subur dan Pulau Rempah di timur Nusantara. Tak heran kekuasaan silih berganti di kawasan ini, mulai dari Sriwijaya, yang kelak dihancurkan kerajaan Cola, hingga Kesultanan Malaka yang berdiri setelahnya. Tome Pires, pengelana Portugis pernah menyebut, siapa yang menguasai (selat) Malaka, niscaya dia menguasai dunia.

TAMPUK MANGGIS

Tampuk Manggis atau bunga manggis adalah motif hias khas Jambi yang kerap hadir dalam kain hingga perabot rumah. Motif ini dapat dimaknai ketulusan masyarakat Jambi yang konsisten dalam kata dan perbuatan—seperti halnya “mata” di bagian bawah buah manggis yang jumlahnya sama persis dengan isi buah di dalamnya. Asas ketulusan dan kejujuran ini... baca selengkapnya

Tampuk Manggis atau bunga manggis adalah motif hias khas Jambi yang kerap hadir dalam kain hingga perabot rumah. Motif ini dapat dimaknai ketulusan masyarakat Jambi yang konsisten dalam kata dan perbuatan—seperti halnya “mata” di bagian bawah buah manggis yang jumlahnya sama persis dengan isi buah di dalamnya. Asas ketulusan dan kejujuran ini juga yang mungkin membuat kerajaan Malayu terbuka dengan siapa saja, termasuk beraliansi dengan kerajaan Singhasari di Jawa. Hubungan harmonis ini juga ditandai dengan pengiriman arca Amoghapasa yang indah dari Raja Kertanagara yang disambut dengan suka cita segenap rakyat kerajaan di Dharmasraya.

SELOKO

Seloko adalah tradisi lisan Jambi yang berupa untaian kata-kata yang mengandung ajaran moral, etika, pesan, teguran dan norma sosial yang disamarkan. Seloko kemungkinan diolah nenek moyang kita dari sloka, syair yang diatur dalam jumlah kata dan rima berbahasa Sansekerta. Sloka digunakan dalam penulisan kitab-kitab besar Mahaprajnaparamitasastra da... baca selengkapnya

Seloko adalah tradisi lisan Jambi yang berupa untaian kata-kata yang mengandung ajaran moral, etika, pesan, teguran dan norma sosial yang disamarkan. Seloko kemungkinan diolah nenek moyang kita dari sloka, syair yang diatur dalam jumlah kata dan rima berbahasa Sansekerta. Sloka digunakan dalam penulisan kitab-kitab besar Mahaprajnaparamitasastra dan Abidharma, ajaran Buddhisme yang mungkin dulunya juga dipelajari di Muarajambi. Seloko kemudian diolah nenek moyang kita menjadi bahasa Melayu dengan menyesuaikan gaya, nada, dan kebutuhan lokal.

FESTIVAL SUMBUN/FAUNA MUARA

Pertemuan air tawar dan laut di muara Sungai Batanghari menjadikan kawasan muaranya kaya dengan organisme. Mulai dari ikan, buaya yang ganas, kepiting hingga kerang-kerangan--termasuk kerang bambu, yang menjadi obyek buruan dalam tradisi Nyumbun. Awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh warga Suku Duano di Kampung Laut, Kabupaten Tanjungjabung Timu... baca selengkapnya

Pertemuan air tawar dan laut di muara Sungai Batanghari menjadikan kawasan muaranya kaya dengan organisme. Mulai dari ikan, buaya yang ganas, kepiting hingga kerang-kerangan--termasuk kerang bambu, yang menjadi obyek buruan dalam tradisi Nyumbun. Awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh warga Suku Duano di Kampung Laut, Kabupaten Tanjungjabung Timur. Tapi kini tradisi ini dilakukan oleh siapa saja dan menjadi pagelaran wisata. Tradisi Nyumbun mengajarkan kita untuk menjaga kelestarian dan menghormati laut.

PULAU SUMATRA

Pulau Sumatra dalam sumber-sumber India disebut dengan nama Swarnadwipa atau Pulau Emas, saking banyaknya emas yang dihasilkan dari buminya. Di pulau inilah tumbuh Kerajaan Malayu yang bercorak Buddhisme yang pada abad ketujuh aktif membina hubungan dengan bangsa-bangsa asing dan kerajaan maritim besar Sriwijaya di abad yang sama. Sriwijaya mengatu... baca selengkapnya

Pulau Sumatra dalam sumber-sumber India disebut dengan nama Swarnadwipa atau Pulau Emas, saking banyaknya emas yang dihasilkan dari buminya. Di pulau inilah tumbuh Kerajaan Malayu yang bercorak Buddhisme yang pada abad ketujuh aktif membina hubungan dengan bangsa-bangsa asing dan kerajaan maritim besar Sriwijaya di abad yang sama. Sriwijaya mengatur perdagangan di Selat Malaka dan menjalin hubungan diplomasi dengan semua bangsa dan peduduk Nusantara. Rajanya, Balaputradeva, dalam Prasasti Nalanda dari abad kesembilan disebutkan bermurah hati menyumbang pembangunan wihara buat mahasiswa dari Swarnadwipa di Nalanda--pusat pendidikan Buddha terpenting di India yang sekilas bentuk dan fungsinya mirip dengan candi-candi di Muarajambi.

DELTA BERBAK

Delta Berbak adalah kawasan yang telah menjadi “panggung utama” penting dalam pertumbuhan kebudayaan Jambi. Di sinilah tersimpan kekayaan jejak-jejak aktivitas seperti keramik-keramik, perahu, bangunan suci, hingga bekas permukiman kuno di tepi sungai ataupun di kawasan rawa. Penemuan-penemuan inilah yang membuat para ahli menarik kesimpulan ka... baca selengkapnya

Delta Berbak adalah kawasan yang telah menjadi “panggung utama” penting dalam pertumbuhan kebudayaan Jambi. Di sinilah tersimpan kekayaan jejak-jejak aktivitas seperti keramik-keramik, perahu, bangunan suci, hingga bekas permukiman kuno di tepi sungai ataupun di kawasan rawa. Penemuan-penemuan inilah yang membuat para ahli menarik kesimpulan kawasan ini menjadi salah satu titik penting yang menghubungkan penduduk Jambi denga dunia luar Boleh jadi, kawasan ini menjadi titik aman yang mampu mengakomodasi kapal-kapal secara alami untuk singgah dan mengisi pasokan komoditas perdagangan, air bersih, bahan makanan, dan sebaginya dalam jaringan pelayaran antarpulau yang masih mengandalkan layar. Tak sekadar kapal dan perahu yang singgah, hingga kini burung-burung migran asal Siberia singgah berbulan-bulan di titik ini sebelum melanjutkan perjalanannya ke Australia dan sebaliknya. Oleh proses alami dan campur tangan manusia, kawasan ini yang semula rawa sekarang telah berbentuk daratan.